Borobudur 25/05/2013 dan Dongeng Toleransi Beragama

Beberapa hari belakangan, Twitter ramai dengan protes akan SBY yang baru saja menerima penghargaan mengenai toleransi beragama. Banyak dari mereka keras mencaci presiden serta mengomentari asam pendapat pesuruh presiden yang mendukung tuannya. Saya sendiri hanya bisa mengingat Borobudur, 25 Mei 2013.

Berawal dari menyaksikan Arisan! 2 beberapa bulan sebelumnya, saya tertarik untuk merasakan damai yang tokoh Memey rasakan pada upacara Waisak di Borobudur. Maka, 3 bulan sebelum hari H saya mempersiapkan semuanya sendirian. Sengaja tidak mengajak siapa-siapa, walau belakangan saya tahu bahwa banyak teman saya yang juga ikut serta.

Sabtu sore saya tiba Borobudur bersama banyak pengunjung lainnya. Beragam turis di sana, baik yang berkunjung dalam rangka studi wisata, jalan-jalan saja, ingin melihat perayaan Waisak, juga umat Budha yang beribadah. Saya yakin hari itu jumlah manusia yang datang berkali-kali lipat dari hari biasa.

Ketika arak-arakan patung Budha datang, saya turun dari atas candi menuju pelataran di depan, mengambil posisi agak tengah, dan duduk bersila mendengarkan doa. Sementara itu puluhan “fotografer” sibuk memenuhi depan panggung, menghalangi umat yang sedang berdoa dan berhenti memoto/berfoto setelah doa selesai.

Menginjak petang, pengunjung ramai mencari tempat duduk, pelataran mulai penuh, dan terlihat bahwa mayoritas yang datang bukan umat yang hendak beribadah. Saya hanya berpikir, ternyata daya tariknya sebesar ini. Acara di mulai agak terlambat, saat itulah awal dari ketidaknyamanan yang terjadi.

Gerimis turun dan banyak yang membuka payung, beberapa keberatan karena pandangan jadi terhalang. Ketika para biksu naik panggung dan doa pertama dibacakan, sekeliling saya bukan hanya ngobrol sendiri tapi ada yang membuat kompetisi bernyanyi dadakan. Ketika menteri agama dan gubernur Jateng masuk lalu memberi sambutan, pengunjung riuh bersorak yang saya tidak mengerti apa tujuannya. Hujan gerimis menjadi deras, acara bukan hanya tidak bisa dilihat tapi juga didengar. Saya pindah tempat pergi dari kerumunan ini, tapi di tempat yang baru tiba-tiba segerombolan orang di depan saya berdiri dan ketika diminta duduk, malah marah-marah. Ketika doa penutup dibacakan, pengujung menjadi liar dan naik ke atas panggung bahkan mengabaikan permintaan biksuni pemimpin doa untuk turun dan mereka juga menyulitkan para biksu yang berlalu lalang. Hujan deras tak berhenti, acara pelepasan lampion dibatalkan dan semua bersorak marah (dan dengar-dengar sih meminta uang yang harusnya jadi sumbangan untuk dikembalikan).

Jujur, saya jadi malu sendiri.

Melihat hal itni dan sehubungan dengan protes di Twitter mengenai penghargaan yang di terima SBY, saya merasa aneh. Pemerintah memang harus melindungi rakyatnya dan tegas dalam menyikapi banyak kasus kekerasan terhadap penganut agama minoritas di banyak daerah. Tapi, bagaimana dengan kita sendiri sebagai masyarakat? Apa iya kita juga sudah menegakkan keadilan dan membela saudara kita walau berbeda agama? Apa iya kita sendiri sudah punya tenggang rasa yang besar terhadap mereka yang Tuhannya berbeda? Apa iya kita sudah bisa saling menghormati tanpa prasangka? Saya sendiri berpikir tidak ada salahnya menghujat pemerintah karena memang mereka perlu itu, tapi lalu apa memang semuanya benar-benar hanya tanggung jawab pemerintah?

Mungkin memang harus ada satu orang pendongeng yang mencitrakan kebaikan untuk menutupi keboborokan dari jutaan orang lainnya. Dan mungkin memang perilaku pemimpin adalah cermin pribadi rakyatnya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s