Katanya demokrasi, tapi harus memilih si A atau B (?)

Golput atau golongan putih adalah orang-orang yang memilih untuk tidak memilih satu pun dari beragam calon pemimpin yang telah disediakan. Alasannya? Saya tidak ingin menggeneralisasi tapi jika anda bertanya pada saya, maka saya akan menjawab karena tidak adanya kepercayaan pada mereka yang memberikan janji manis memimpin dengan lebih baik. Kenapa tidak percaya? Ketika sebagai rakyat yang telah menjalankan kewajiban, namun tidak bisa merasakan kewajiban yang harusnya diberikan oleh para pemimpin yang sudah ada, wajar kan kalo timbul rasa tidak percaya?

Entahlah. Bagi saya, kepercayaan itu proses yang keberadaannya dibangun bukan dari kampanye sekejap. Dan lagi, polanya hampir sama di setiap pemilihan umum kan? Pengutraan visi, misi dan janji manis, terpilih, lalu apa?

Saya bingung, kenapa banyak orang yang berasusmsi golput itu sebagai cerminan tindak apatis? Kenapa tidak berpikir, seperti semua hal yang memiliki pro dan kontra, biarlah keberadaan golput menjadi oposisi yang mengoreksi ketika semua orang berpikiran satu hal itu benar. Aneh jika melihat orang-orang yang memilih salah satu calon pemimpin lalu merasa lebih superior dan berkontribusi. Kontribusi itu hasil kinerjamu sendiri, bung! Bukan berlindung dibalik pejabat yang kamu pilih dan menanti kinerja mereka. Justru saya merasa kasihan dengan orang-orang yang merasa mereka telah membangun sebuah daerah hanya dengan memilih calon pemimpin. Bukannya pikiran seperti itu sama saja dengan mengalihkan tanggungjawab sendiri pada orang yang, yah, memang sudah pasti bisa dipercaya?

Lagipula, apa dasarmu memilih itu sudah benar atau hanya ikut-ikut orang tua atau pengaruh provokasi selebtwit? Buat saya, memutuskan memilih calon-calon pemimpin dengan benar itu dengan mencari informasi sendiri mengenai sepak terjang dan aksi mereka, di dunia politik dan juga di segala aspek hidup mereka, lalu baru menentukan salah satunya. Bukan hanya menilai iklan kampanye atau tulisan-tulisan yang menggiring opini. Menjadi kritis itu penting, kan?

Satu lagi, bedakan golongan putih dan golongan pemalas yang memang tidak peduli atau malas pergi ke TPS. Bebas kalau kalian mau mengejek golongan pemalas ini.

Kalau menurut anda sadar berpolitik itu dengan memilih, lalu apa tidak memilih itu bukan sebuah pilihan?

Yang saya tahu berdemokrasi memberikan kebebasan yang disertai dengan tanggungjawab dan menghormati satu sama lain. Lalu, kenapa kamu masih merendahkan keputusan orang lain?

Semua hal ada untuk dipertanyakan, termasuk kebenaran yang ada dalam pikiran kita.

Tulisan ini ditulis bukan oleh ahli politik, hanya anak muda biasa yang mencoba mengutarakan suaranya.

Advertisement

3 thoughts on “Katanya demokrasi, tapi harus memilih si A atau B (?)

  1. Couldn’t agree more! Bagi saya, tiap pemilu / pilkada itu rule-nya simple: pilih yang kamu percaya. Nah kalo tidak ada yang kamu percaya dari semua foto para calon pemimpin di kertas suara, yaa jangan milih. Dan ya, apatis itu yang tidur2an di rumah & gak dateng ke TPS. Yang Golput tapi “nyoblos” ke TPS, dia sudah menghargai dirinya sendiri sebagai warga negara. Cumaaaa, calon2 yang “disajikan” di kertas suara, kurang cocok aja di hati. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s